Konservasi

Pelestarian Cagar Budaya dan Museum

Konservasi Koleksi Museum

Arkeologinesia memiliki pengalaman yang cukup sebagai tenaga ahli di bidang konservasi koleksi museum. Keterbatasan tenaga konservasi (konservator) di museum menjadi perhatian kami untuk dapat membantu museum dalam menjaga kelestarian koleksi museum.

Konservasi Preventif dan Interventif

Konservasi Preventif

Tindakan pencegahan atau preventif menjadi tindakan utama kami dalam melestarikan koleksi museum. Kami yakin tindakan ini merupakan tindakan yang perlu dan menjadi yang utama karena waktu dan biaya yang diinvestasikan oleh museum lebih kecil dibandingkan dengan tindakan interventif. Prinsip kami adalah lebih baik mencegah daripada mengobati.

Konservasi Interventif

Tindakan interventif dapat kami lakukan jika koleksi museum sudah dalam kondisi yang benar-benar membutuhkan tindakan khusus untuk menghentikan laju kerusakan yang terjadi pada koleksi.

Tindakan interventif yang kami lakukan tetap memperhatikan prinsip dasar dari tindakan konservasi interventif yaitu reversible atau dapat dikembalikan pada kondisi semula.

Pelatihan Staf Museum

Arkeologinesia turut serta dalam meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di lingkungan museum terutama dalam penanganan koleksi melalui pelatihan yang diberikan kepada staf museum dalam tindakan konservasi koleksi.

Landasan Operasional

  • Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya
  • Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2015 tentang Museum
  • Kode Etik International Council Of Museum (ICOM)
  • The Conservator-Restorer: a Definition of the Profession (ICOM-CC, 1984)
  • Kode Etik Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

Ruang Lingkup

  • Konservasi Preventif
  • Konservasi Interventif
  • Kajian Lingkungan Museum
  • Benchmarking Konservasi Museum
  • Pengukuran Lingkungan Museum (Suhu, Kelembapan, Radiasi UV dan IR, Intensitas Cahaya)
  • Pelatihan Staf Museum dalam Penanganan Koleksi