Konservasi Koleksi Museum

company-logo

Pendahuluan

Sebelum kita masuk dan membahas lebih jauh tentang konservasi koleksi, ada baiknya kita bahas lebih dahulu fungsi museum itu sendiri.

Definisi tentang fungsi museum dapat kita temukan dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Fungsi museum menurut undang-undang tersebut adalah:

Pasal 18

  1. Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya bergerak yang dimiliki oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau setiap orang dapat disimpan dan/atau dirawat di museum.
  2. Museum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi berupa benda, bangunan, dan/atau struktur yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya atau yang bukan Cagar Budaya, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat.
  3. Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Koleksi Museum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berada di bawah tanggung jawab pengelola museum.

Maka dengan demikian Museum dapat mengelola (menyimpan dan/atau merawat) suatu objek baik yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya maupun yang bukan Cagar Budaya. Pengelolaan objek tersebut kemudian sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengelola museum.

Lebih jauh dalam Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2015 tentang Museum mempertegas bagaimana kewajiban pengelola museum untuk melakukan pemeliharaan terhadap objek (koleksi museum) yang dimilikinya.

Paragraf 3 – Pemeliharaan

Pasal 29

  1. Pengelola Museum wajib melakukan pemeliharaan Koleksi yang dilakukan secara terintegrasi.
  2. Pengelola Museum wajib membuat prosedur operasional standar untuk Pemeliharaan Koleksi.
  3. Kepala Museum bertanggung jawab menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pemeliharaan Koleksi.

Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2015 tentang Museum pada Pasal 31 lebih mempertegas ancaman hukum atau sanksi dapat dikenakan kepada Pengelola Museum yang tidak melaksanakan kewajibannya dalam melakukan pemeliharaan koleksi.

Pasal 31

Pengelola Museum yang tidak melaksanakan pemeliharaan Koleksi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Maka dari itu, Pengelola Museum yang belum melakukan kewajiban memelihara koleksinya bersiap-siap mendapatkan sanksi hukum ya…

Tanpa berbicara panjang lebar lagi mengenai landasan dasar peraturan perundang-undangan tentang museum, kita masuk pada pembahasan inti dari konservasi koleksi.

Apa Itu Konservasi Koleksi ?

Definisi konservasi berikut ini diambil dari definisi konservasi yang dipublikasikan oleh ICOM-CC (International Council of Museum – Committee for Conservation) pada 15th Triennial Conference di New Delhi, September 2018.

Konservasi adalah:

Seluruh pengukuran dan tindakan yang bertujuan untuk melestarikan objek budaya sekaligus memastikan dapat diakses (dimanfaatkan) pada masa kini dan di masa yang akan datang. Konservasi meliputi tindakan preventif, perbaikan, dan restorasi. Seluruh tindakan yang dilakukan harus menghormati arti penting dan kondisi fisik dari objek budaya tersebut.

ICOM-CC, 2018. Terminology for Conservation. Sumber: www.icom-cc.org

Berdasarkan definisi ICOM-CC tersebut, kita mengetahui bahwa terdapat 3 jenis tindakan utama dalam konservasi yaitu: 1) Tindakan Preventif, 2) Tindakan Perbaikan, dan 3) Restorasi.

Tindakan Preventif / Pencegahan (Preventive Conservation)

Tindakan konservasi preventif adalah seluruh pengukuran dan tindakan yang bertujuan untuk menghindari dan meminimalkan kerusakan yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Tindakan yang dilakukan meliputi konteks di sekeliling objek atau sekelompok objek, berapapun usia dan kondisinya. Tindakan yang dilakukan bersifat tidak langsung (indirect) – tidak melakukan intervensi pada bahan dan struktur objek – tidak merubah penampilan objek.

Beberapa contoh tindakan preventif:

  • Melakukan pendataan koleksi (registrasi koleksi)
  • Menyimpan, memegang, membungkus (packing), serta memindahkan dengan baik dan hati-hati
  • Menjaga keamanan (security) dari kemungkinan pencurian dan vandalisme
  • Melakukan pengelolaan lingkungan dengan baik dan tepat untuk menghindari paparan cahaya dan radiasi, polusi, serangan serangga, kontrol iklim (temperatur dan kelembapan ruang)
  • Menyusun perencanaan tindakan gawat darurat kebencanaan (disaster management)
  • Melakukan pelatihan staf dalam menangani koleksi

Perbaikan (Remedial Conservation)

Konservasi perbaikan adalah tindakan yang dilakukan secara langsung (direct) kepada objek dengan tujuan untuk menghentikan proses kerusakan dan mengembalikan stabilitas struktur.

Tindakan ini dilakukan hanya pada koleksi yang telah berada dalam kondisi yang rapuh dan rusak, yang dapat menyebabkan objek tersebut hilang (semakin rusak, tidak berharga) dalam waktu dekat.

Tindakan yang dilakukan kadang merubah/memodifikasi tampilan dari objek.

Beberapa contoh tindakan perbaikan:

  • Menghilangkan infestasi biologis (jamur, sisa serangga, kotoran, dan sejenisnya) pada objek
  • Menetralkan keasaman (de-acidification) pada objek kertas
  • Mengeringkan (de-hydration) objek yang basah/lembab
  • Menghentikan dan membersihkan karat
  • Menghilangkan lumut pada objek Melakukan konsolidasi pada objek yang telah pecah

Restorasi

Restorasi adalah tindakan yang dilakukan secara langsung (direct) kepada objek tunggal pada kondisi sekalipun kondisi objek stabil untuk memfasilitasi apresiasi (kenampakan), meningkatkan pemahaman, dan penggunaan.

Tindakan ini hanya dapat dilakukan ketika suatu objek telah kehilangan arti penting dan fungsinya akibat intervensi yang dilakukan pada masa sebelumnya.

Tindakan yang dilakukan harus menghormati keaslian material. Tindakan restorasi sebagian besar akan merubah penampilan dari objek.

Beberapa contoh tindakan restorasi:

  • Restorasi lukisan (retouching)
  • Menyusun ulang patung yang hancur dan menambal bagian yang hilang jika tidak ditemukan
  • Mengembalikan bentuk keranjang pada bentuk aslinya jika telah mengalami perubahan bentuk
  • Mengisi (filling) gelas kaca bagian gelas kaca yang telah pecah dan hilang

Siapa Saja yang Boleh Melakukan Tindakan Konservasi ?

Nah, pertanyaan ini sering penulis dengar dari beberapa pengelola museum atau staf museum pada kesempatan workshop atau diskusi. Beberapa orang mungkin akan kecewa ketika mendengar penjelasan ini.

Tindakan konservasi itu perlu dilakukan secara bertanggung jawab karena kita akan menangani suatu objek yang tidak ternilai harga dan arti pentingnya sehingga jika kita salah menanganinya maka maksud kita yang tadinya baik ingin memperbaiki objek malah merusak objek itu.

Ada satu contoh kejadian percobaan tindakan restorasi yang dilakukan oleh restorator yang tidak memiliki pengalaman yang cukup melakukan tindakan restorasi pada salah satu lukisan fresco pada dinding Gereja di Desa Borja, Spanyol.

Lukisan fresco berjudul “Ecce Homo” dilukis oleh Elías García Martínez pada 1930 (Foto paling kanan adalah setelah “kegagalan” restorasi)

Tindakan konservasi memang perlu dilakukan oleh seorang yang memiliki pengalaman cukup. Namun demikian ada tindakan yang dapat dilakukan oleh staf museum selain konservator.

Tindakan Preventif/Pencegahan (Preventive Conservation)

Tindakan ini boleh dilakukan oleh staf museum karena tindakannya tidak secara langsung bersinguungan dengan koleksi namun tindakan preventif penting untuk mencegah kerusakan pada koleksi.

Menyapu ruang pamer, membersihkan debu pada vitrin, membersihkan jendela, melakukan pendataan koleksi adalah hal kecil namun berdampak besar dalam pemeliharaan koleksi.

Tingkat KesulitanMudah
StafStaf Museum
Asisten Konservator
Konservator
CatatanStaf Museum perlu berkoordinasi dengan Asisten Konservator atau Konservator untuk tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan

Tindakan Perbaikan (Remedial Conservation)

Tindakan ini dapat dilakukan oleh staf museum yang telah memiliki pengalaman sekurang-kurangnya pernah melakukan 2-3 kali perbaikan koleksi dengan metode yang benar dan dibawah pengawasan Konservator.

Tindakan perbaikan perlu menggunakan bahan yang terstandar konservasi dan dapat dikembalikan (reversibel) pada kondisi semula jika suatu hari ternyata metode perbaikan yang digunakan kurang tepat atau ada metode yang lebih mutakhir.

Tingkat KesulitanMenengah hingga Sulit
StafAsisten Konservator (di bawah pengawasan Konservator Kepala)
Konservator
CatatanAsisten konservator atau Konservator harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang konservasi koleksi museum

Restorasi

Tindakan restorasi ini adalah tindakan paling sulit dan perlu memiliki jam terbang yang cukup dalam menangani koleksi. Jika Anda seorang pelukis belum tentu Anda boleh melakukan restorasi tanpa pengawasan dari Konservator berpengalaman walaupun Anda bisa melukis sama persis dengan lukisan yang akan diperbaiki.

Mengapa? Karena tindakan restorasi bukan semata-mata tindakan untuk ‘mempercantik’ atau ‘mengembalikan’ kondisi lukisan seperti dulu. Ada banyak hal yang menjadi batasan dan etik yang perlu diketahui oleh seorang restorator ketika akan melakukan restorasi lukisan.

Di luar negeri, proses restorasi tidak serta merta ‘memperbaiki’ koleksi. Para ahli konservasi bekerja dalam tim khusus melakukan berbagai macam analisis baik secara kimia, fisika, hingga kesejarahan bersama-sama dengan kurator sebelum memutuskan restorasi seperti apa yang akan dilakukan.

Tingkat KesulitanSulit
StafAsisten Konservator (di bawah pengawasan Konservator Kepala)
Konservator
CatatanAsisten konservator atau Konservator harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang konservasi koleksi museum dan memiliki pengalaman pernah melakukan tindakan restorasi sebelumnya.

Asisten konservator sering kali hanya dapat melakukan beberapa bagian selebihnya akan ditangani oleh Konservator Kepala atau Konservator Senior.

Baiklah sahabat cagar budaya dan museum, kira-kira begitulah postingan saya kali ini yang bertema konservasi dengan judul Konservasi Koleksi Museum.

Semoga dapat membantu dan jangan segan untuk menghubungi kami jika memerlukan informasi yang lebih jauh tentang Museum dan Konservasi.

About The Author

Asies Sigit Pramujo

Arkeolog yang memiliki spesialisasi dalam bidang konservasi koleksi museum. Di sela-sela waktu juga sebagai programer aplikasi dan web developer.

Add a comment

*Please complete all fields correctly